Bacaan Misa
Hari ini didaraskan Kemuliaan dan Aku Percaya.
L: Ketika tiba hari Pentekosta, semua orang berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka memulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.
Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bangun karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata, “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang karya-karya agung yang dilakukan Allah.”
Allahku nama-Mu hendak kupuji. Engkau amat agung berdandan sinar kebesaran.
Ya Tuhan berselubungkan cahaya. Bagai jubah raja langit Kaupasang bagai kemah.
Firman-Mu disampaikan oleh angin. Api yang berkobar tunduk pada-Mu bagai hamba.
L: Saudara-saudara, hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging - karena keduanya bertentangan - sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, permusuhan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta-pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kamu kuperingatkan - sebagaimana dahulu telah kulakukan - bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah. Tetapi buah Roh ialah: cinta kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.
Datanglah, hai Roh Kudus, penuhilah hati kaum beriman dan nyalakanlah api cinta-Mu di dalam hati mereka.
I: Pada waktu itu bersabdalah Yesus kepada murid-muridNya, “Aku akan mengutus kepadamu Penghibur yang berasal dari Bapa. Dialah Roh kebenaran. Jikalau Ia datang, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu pun harus bersaksi, karena sejak semula kamu bersama Aku. Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Roh kebenaran itu datang, maka Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran. Ia tidak akan berbicara dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya, itulah yang akan dikatakan-Nya. Dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dripada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya. Itulah sebabnya Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya daripada-Ku.”
Bahasa Ibu
Kata Pentakosta berasal dari bahasa Yunani, pentekoste, yang berarti kelima puluh. Hari kelima puluh setelah Paskah. Sebuah angka yang menandai kepenuhan, seperti panen setelah masa menunggu.
Dan panen itu datang dengan cara yang tak terduga. Angin, lidah api, lalu para murid mulai berbicara. Orang banyak dari berbagai negeri berkerumun, dan terjadilah keajaiban yang mudah terlewat: mereka masing-masing mendengar dalam bahasa mereka sendiri. Orang Partia mendengar bahasa Partia, orang Mesir mendengar bahasa Mesir.
Perhatikan, Roh Kudus tidak memaksa semua orang memakai satu bahasa seragam. Ia justru membuat Injil terdengar dalam bahasa ibu masing-masing. Bahasa yang kita pakai waktu kecil, bahasa yang dipakai ibu menimang kita, bahasa yang paling dalam menyentuh hati.
Ada sesuatu yang lembut di situ. Allah tidak berbicara kepada kita dalam bahasa asing yang harus kita pelajari dulu. Ia turun ke bahasa kita.
Ada yang melihat Pentakosta sebagai kebalikan menara Babel. Di Babel, kesombongan manusia mengacaukan bahasa dan mencerai-beraikan mereka. Di Pentakosta, Roh Kudus memakai perbedaan bahasa justru untuk mengumpulkan. Yang dulu memisahkan kini menyatukan.
Paulus menjelaskan logikanya dalam bacaan kedua. 'Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.' Seperti tubuh, banyak anggota tetapi satu badan. Tangan bukan mata, kaki bukan telinga. Kalau semua jadi mata, dengan apa tubuh mendengar? Kesatuan Gereja bukan keseragaman. Roh yang sama justru menyalakan warna yang berbeda-beda.
Kita kadang keliru mengira, bersatu berarti semua harus sama. Sama pendapat, sama selera, sama cara berdoa. Padahal Pentakosta mengajarkan hal sebaliknya. Roh yang satu sanggup menyatukan yang beragam, tanpa melebur perbedaannya.
Bayangkan sebuah paduan suara. Kalau semua menyanyi nada yang persis sama, itu bukan harmoni, itu hanya suara keras. Harmoni lahir justru karena ada suara tinggi dan rendah yang mau saling mendengar.
Di rumah, di paroki, di tempat kerja, kita berhadapan dengan orang yang berbeda watak dan cara. Godaannya adalah menganggap yang berbeda itu salah. Pentakosta menawarkan cara pandang lain: barangkali ia anggota tubuh yang lain, yang justru kita butuhkan.
Hari ini, adakah perbedaan di sekitar kita yang selama ini kita anggap gangguan, padahal itu karunia Roh yang belum kita syukuri?
Roh Kudus, Engkau berbicara kepada tiap orang dalam bahasa hatinya sendiri. Ajarilah kami mendengar satu sama lain, dan menjadi satu tubuh tanpa kehilangan warna kami. Amin.
Invitatorium
Pembukaan
AntifonAlleluya. Marilah kita menyembah Roh Tuhan, yang memenuhi seluruh bumi, alleluya.
Mazmur 94 (95)
AntifonAlleluya. Marilah kita menyembah Roh Tuhan, yang memenuhi seluruh bumi, alleluya.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Roh berembus ke mana Ia kehendaki; engkau mendengar suara-Nya, tetapi tidak tahu dari mana Ia datang atau ke mana Ia pergi, alleluya.
Mazmur 103 (104)
Nyanyian Pujian kepada Allah Pencipta
Berada dalam Kristus berarti menjadi ciptaan yang sama sekali baru. Segala yang lama telah lenyap, kini segala sesuatu dijadikan baru (2 Korintus 5:17).
AntifonRoh berembus ke mana Ia kehendaki; engkau mendengar suara-Nya, tetapi tidak tahu dari mana Ia datang atau ke mana Ia pergi, alleluya.
Antifon 2Tiba-tiba dari langit terdengar bunyi angin kencang, alleluya.
AntifonTiba-tiba dari langit terdengar bunyi angin kencang, alleluya.
Antifon 3Utuslah Roh-Mu dan mereka akan diciptakan; dan Engkau akan memperbarui muka bumi, alleluya.
AntifonUtuslah Roh-Mu dan mereka akan diciptakan; dan Engkau akan memperbarui muka bumi, alleluya.
Responsorium Galatia 4:6; 3:26; 2 Timotius 1:7
Responsorium Kisah Para Rasul 2:1-2
Te Deum
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Ya Tuhan, sungguh baik dan manislah RohMu yang tinggal dalam diri kami, alleluya.
Mazmur 62
Antifon 1Ya Tuhan, sungguh baik dan manislah RohMu yang tinggal dalam diri kami, alleluya.
Antifon 2Pujilah Tuhan, hai segala mata air dan segala yang hidup di dalam air, alleluya.
Dan 3,57-88.56
Kidung ini tidak ditutup dengan 'Kemuliaan'.
Antifon 2Pujilah Tuhan, hai segala mata air dan segala yang hidup di dalam air, alleluya.
Antifon 3Para rasul berbicara dalam berbagai bahasa tentang karya agung Allah, alleluya.
Mazmur 149
Antifon 3Para rasul berbicara dalam berbagai bahasa tentang karya agung Allah, alleluya.
Bacaan singkat: Kis 5,30-32
Antifon KidungTerimalah Roh kudus, siapapun yang kamu ampuni dosanya, akan diampuni, alleluya.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungTerimalah Roh kudus, siapapun yang kamu ampuni dosanya, akan diampuni, alleluya.
Doa Permohonan
℟. Baharuilah muka bumi, ya Tuhan.
Tuhan Yesus, waktu Engkau ditinggikan pada salib, mengalirlah air pemberi hidup dari lambungMu,* utuslah Roh kudus, pemberi hidup, kepada kami. ℟.
Dari kemuliaanMu di sebelah kanan Bapa Kauanugerahkan kurnia Bapa kepada para rasul ,* utuslah RohMu untuk menciptakan dunia baru. ℟.
Para rasul Kauberi kuasa dalam Roh kudus untuk mengampuni dosa,* hancurkanlah kuasa dosa dalam dunia. ℟.
Engkau menjanjikan Roh kudus untuk mengajar kami segala sesuatu dan mengingatkan kembali segala sabdaMu,* utuslah RohMu untuk menerangi iman kami. ℟.
Engkau berjanji mengutus Roh kebenaran untuk memberi kesaksian tentang diriMu,* utuslah RohMu agar kami menjadi saksiMu yang setia. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (Cf. 1 Cor 15, 3 b-5)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifonifon dari ibadat pagi, mazmur dari hari minggu I siang, hal. 394
Antifon 1Ya Tuhan, sungguh baik dan manislah RohMu yang tinggal dalam diri kami, alleluya.
Mazmur 117 (118)
Antifon 1Ya Tuhan, sungguh baik dan manislah RohMu yang tinggal dalam diri kami, alleluya.
Antifon 2Pujilah Tuhan, hai segala mata air dan segala yang hidup di dalam air, alleluya.
Antifon 2Pujilah Tuhan, hai segala mata air dan segala yang hidup di dalam air, alleluya.
Antifon 3Para rasul berbicara dalam berbagai bahasa tentang karya agung Allah, alleluya.
Antifon 3Para rasul berbicara dalam berbagai bahasa tentang karya agung Allah, alleluya.
Bacaan singkat: 2 Kor 1,21-22
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (Rom 6, 4)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan II Mazmur
Madah
Antifon 1Pada hari Pentekosta semua murid Yesus berkumpul di satu tempat, alleluya.
Antifon 1Pada hari Pentekosta semua murid Yesus berkumpul di satu tempat, alleluya.
Antifon 2Tampaklah kepada para rasul lidah-lidah yang menyerupai api dan hinggap di atas mereka masing-masing, alleluya.
Mazmur 113
Antifon 2Tampaklah kepada para rasul lidah-lidah yang menyerupai api dan hinggap di atas mereka masing-masing, alleluya.
Antifon 3Roh yang keluar dari Bapa, akan memuliakan Daku, alleluya.
Why 19,1-7
Antifon 3Roh yang keluar dari Bapa, akan memuliakan Daku, alleluya.
Bacaan singkat: Ef 4,3-6
Antifon KidungHari ini tibalah Pentekosta, alleluya. Hari ini Roh kudus tampak kepada para rasul dalam rupa api dan membagikan anugerah kepada mereka. Hari ini Roh kudus mengutus para rasul ke seluruh dunia untuk mewartakan Injil dan memberi kesaksian. Barang siapa percaya dan dibaptis, akan selamat, alleluya.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungHari ini tibalah Pentekosta, alleluya. Hari ini Roh kudus tampak kepada para rasul dalam rupa api dan membagikan anugerah kepada mereka. Hari ini Roh kudus mengutus para rasul ke seluruh dunia untuk mewartakan Injil dan memberi kesaksian. Barang siapa percaya dan dibaptis, akan selamat, alleluya.
Doa Permohonan
℟. Utuslah Roh kudus kepada umatMu, ya Tuhan.
Semua orang yang percaya kepada Kristus hendak Kausatukan dalam Roh kudus berdasarkan pembaptisan yang satu dan sama,* semoga orang beriman menjadi sehati sejiwa dalam Engkau. ℟.
Engkau memenuhi segenap muka bumi dengan RohMu,* semoga kami sanggup membangun suatu dunia yang adil dan damai. ℟.
Tuhan Allah, Bapa semua orang, Engkau hendak menghimpun putera-puteraMu yang tercerai-berai menjadi satu dalam iman yang sama,* terangilah dunia kami dengan cahaya Roh kudus. ℟.
Engkau membaharui segalanya dalam Roh kudus,* sembuhkanlah yang sakit, hiburkanlah yang berduka, limpahkanlah belaskasihanMu kepada semua orang. ℟.
Engkau membangkitkan PuteraMu dari alam maut dengan kekutan Roh kudus,* hidupkanlah kembali tubuh semua orang mati bagi kehidupan kekal. ℟.
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan II Mazmur
Doa Tobat
dan kepada saudara sekalian,
bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan,
dengan perbuatan dan kelalaian.
Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa.
Oleh sebab itu saya mohon kepada santa perawan Maria,
kepada para malaikat dan orang kudus
dan kepada saudara sekalian,
supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita.
Madah
AntifonTuhan akan menudungi engkau dengan kepakNya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.
Mazmur 90 (91)
AntifonTuhan akan menudungi engkau dengan kepakNya, engkau tak usah takut akan bahaya di waktu malam.
Bacaan singkat Why 22,4-5
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Beata Anna Maria Taigi
“Keluargaku seperti Firdaus tampaknya, dan hatiku sungguh bahagia”, demikian kata Dominiko Taigi waktu berlangsungnya proses pernyataan beata atas diri Anna Taigi, isterinya. Kegembiraan dan kebahagiaan yang sama meliputi anak-anaknya serta pembantu yang melayaninya. Mereka semua kagum akan kesucian hidup Anna Maria yang sangat mencintai mereka dengan perhatian dan kebaikannya yang luar biasa.
Anna Maria Taigi hidup antara 1769-1837 dan terlahir di Siena.Ketika berumur enam tahun, ia berada di Roma untuk mengikuti pendidikan disana. Ia kelihatan saleh dan sederhana. Ia gemar mengenakan pakaian yang indah-indah serta gemar akan kesenangan-kesenangan dunia yang pantas. Perkawinannya dengan Dominiko Taigi berlangsung pada usia 21 tahun. Tuhan menganugerahkan kepadanya tujuh orang anak. Hidup mereka sederhana namun bahagia. Untuk menambah pendapatan keluarga, ia menerima pesanan jahitan. Memang banyak sekali pengalaman pahit dialaminya, namun semuanya dipersembahkan kepada Tuhan. Tuhan selalu meneguhkan hatinya dengan menganugerahkan kedamaian batin kepadanya. Baginya, mendidik dan membesarkan tujuh orang anak bukanlah perkara yang mudah. Ibu kandungnya sendiri tinggal bersama mereka. Beban tanggungannya semakin bertambah berat ketika Sophia anaknya menjadi janda dan kembali tinggal dengannya bersama enam orang anaknya yang lain.
Untuk mereka semua, Anna benar-benar menjadi seorang malaikat pelindung dan pendamai. Bagi tetangga-tetangganya, ia juga menjadi seorang penghibur. Pada suatu hari Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam rupa sebuah bulatan cahaya Ilahi. Dalam bulatan cahaya itu, ia dapat melihat segala sesuatu yang terjadi, baik di masa lampau, kini dan yang akan datang. Tuhan pun menganugerahkan kepadanya kemampuan mengenal keadaan batin orang lain dan mengetahui nasih orang lain.
Terdorong akan pengalaman akan Allah itu, Anna semakin yakin akan perlindungan Tuhan atas dirinya. Ia menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah sebagai kurban silih atas dosa-dosa dunia dan bagi keselamatan Gereja ditengah banyak masalah. Banyak sekali orang datang kepadanya untuk meminta bimbingan. Banyak waktu dihabiskannya untuk melayani orang-orang itu. Kesucian hidupnya ternyata berpengaruh besar terhadap lingkungan disekitarnya. Meski banyak kali disibukkan untuk melayani orang lain, namun apa yang menjadi kewajibannya sebagai ibu rumah tangga tidak pernah dilalaikannya. Suami dan anak cucunya dilayani dengan penuh kasih sayang. Ia pun banyak membantu orang-orang susah dan menyembuhkan banyak orang sakit tanpa meminta bayaran.
Anna Taigi diberi gelar ‘beata’ bukan karena penglihatan ajaib yang dilihatnya tetapi karena kebaikan hatinya, kemiskinannya, kerendahan hatinya serta kerelaannya untuk menderita bagi jiwa-jiwa.
Beata Diana
Santo Dominikus memperluas karyanya ke Italia dan memilih kota Bologna sebagai pusat karyanya, karena buah-buah pikirannya diterima baik di Universitas Bologna.
Pada mulanya karya Dominikus di kota ini tidak terlalu berhasil. Banyak rintangan menghadang, terutama karena Tuan Andalo, seorang tuan tanah yang berkuasa di Bologna, tidak suka pada agama Kristen. Meski demikian, Dominikus tidak berputus asa. Tuhan tetap memberkati karyanya dan memberinya jalan keluar dari segala kesulitan. lewat Diana, puteri kesayangan Andalo, Dominikus mendapat jalan keluar untuk menanamkan pengaruhnya di Bologna. Diana menjadi sahabat baik Dominikus, dan sangat tertarik pada ajaran iman Katolik. Ia lalu memutuskan untuk mengikuti pelajaran agama dan ingin menjadi seorang biarawati. Ia yakin bahwa ia dapat membujuk ayahnya dan keluarganya agar tidak bersikap antipati terhadap agama Katolik. Kecuali itu, ia merasa yakin sekali bahwa ayahnya akan bersikap lunak dan akan membantu mendirikan sebuah biara Dominikan di kota Bologna.
Tetapi apa yang diyakininya tidak terjadi dengan mulus. Tatkala ia memberitahukan dan seluruh anggota keluarganya tentang niat sucinya untuk menjadi seorang biarawati, ia dimarahi dan cita-citanya ditolak mentah-mentah. Menghadapi kemarahan dan penolakan keluarganya itu, Diana segera mengambil keputusan berani untuk meninggalkan rumah dan lari mencari perlindungan pada para imam Agustinian di Roxana. Keputusan ini dilaksanakannya secara diam-diam. Hal ini sangat mengejutkan keluarganya. Mereka segera mencari Diana. Akhirnya mereka menemukan dia di Biara Roxana dan membawanya pulang ke rumah. Disana ia dipukul dan dikurung dalam sel. Tetapi beberapa hari kemudian, Diana berhasil meloloskan diri dan kembali ke Roxana. Keluarganya tidak berusaha mencarinya lagi.
Beato Yordan dari Saxon turut berusaha menenangkan keluarganya dan melembutkan hati tuan Andalo bersama anak-anaknya yang lain. Usaha Yordan ini disambut dengan baik dan berhasil. Tuan Andalo bersama anak-anaknya dapat menerima panggilan Diana dan membantu mendirikan sebuah biara kecil bagi biara Dominikan. Biara kecil ini kemudian dihuni Diana bersama empat orang kawannya. Cara hidup mereka menarik banyak orang sehingga dalam waktu relatif singkat merka mendapat tambahan anggota baru. Dua orang dari anggota baru adalah Sisilia dan Amata, sahabat karib Diana. Bersama Diana, Sisilia dan Amata berkembang dalam hidup rohani dan dalam pengabdian tulus kepada Allah. Kemudian mereka digelari ‘beata’(yang berbahagia) oleh Gereja pada tahun 1891.
Santo Efrem
Lahir di Nisibis tahun 306, Mesopotamia (sekarang: Nusaybin, Turki) dan meninggal tahun 373. Ia sebagai seorang penyair, guru, orator dan pembela iman, Efrem dikenal luas serta menjadi tokoh kebanggaan umat Kristen Syria. Semasa remajanya ia mengikuti pendidikan agama dari uskup Yakob dari Nasibis. Uskup Yakob-kemudian digelari ‘Kudus’ oleh Gereja-membimbing Efrem hingga di permandikan.
Ketika orang-orang Syria menduduki kota Nasibis pada tahun 363, orang-orang Kristen di Nasibis dipaksa keluar dari Nasibis. Efrem bersama orang-orang Kristen Nasibis mengungsi ke Edessa (Urfa di Irak). Di tempat pengungsian itu, umat mengangkatnya sebagai pemimpin rohani mereka. Efrem menerima tugas ini sebagai kesempatan emas untuk membaktikan diri pada umat. Ia mengajarkan mereka ajaran iman Kristen serta membesarkan hati mereka. Sementara itu ia sendiri menjalani suatu corak hidup yang keras sampai saat ajalnya. Ia rajin menulis buku-buku pembelaan iman. Buku-buku apologetisnya, homili-homilinya dalam bentuk puisi, berbagai nyanyian dan kidung Gereja ciptaannya, membuat dia dikenal luas dan berpengaruh besar di kalangan umatnya di Edessa, bahkan diseluruh Gereja. Di Gereja Timur ia dijuluki ‘Cahaya bangsa Syria’, ‘Rasul Bangsa Syria’, ‘Pujangga Gereja’, dan ‘Kecapi Roh Kudus’. Dua puluh tahun setelah kematiannya, Santo Yerome memasukkan namanya dalam daftar orang-orang Kristen yang masyur namanya.
Efrem dikenal karena ajaran-ajaran dogmatis dan pengetahuannya yang luas. Ia rajin membaca Kitab Suci dan merefleksikan misteri-misteri Allah. Komentar-komentarnya tentang Kitab Suci sangat bermanfaat pula waktu itu. Sebagai seorang komentator, ia lebih suka akan arti harafiah Kitab Suci dan enggan menafsirkannya secara alegoris. Ia ramah kepada orang-orang miskin dan yang menderita. Tatkala umat Edessa tertimpa kelaparan hebat pada tahun 378, ia berjuang keras untuk menyelamatkan mereka dari kematian. Kunci sukses hidupnya ialah kerendahan hatinya: ia tidak pernah menaruh kepercayaan pada diri sendiri melainkan pada Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan akan senantiasa membimbingnya. Ia menolak di tabhiskan menjadi imam dan memilih tetap sebagai diakon sampai akhir hidupnya. Kepada Santo Basilius yang ditemuinya, ia berkata: “Sayalah Efrem, orang yang tersesat dari jalan ke surga. Karena itu kasihanilah saya orang berdosa ini. Bimbinglah saya melalui jalan yang sempit.”
Santo Primus dan Felicianus
Kedua bersaudara kandung ini berasal dari keluarga kafir di kota Roma. Meskipun mereka masih kafir, namun mereka dikenal sebagai orang baik-baik yang disenangi banyak orang. Semenjak kecil, Primus dan Felicianus hidup di lingkungan kafir dan dididik oleh kafir pula.
Pengenalannya akan iman Kristen sampai menjadi martir, berawal dari perkenalan mereka dengan Paus Feliks I (269-274). Dari bimbingannya kedua bersaudara ini mengenal iman Katolik dan dipermandikan.
Setelah permandiannya, mereka rajin berdoa dan melakukan kegiatan-kegiatan amal kasih, mengunjungi orang-orang Kristen di penjara untuk menghibur dan meneguhkan hati mereka. Tuhan melimpahkan rahmatNya kepada mereka dan melindungi mereka dari segala tindakan kejam para penguasa negara. Selama bertahun-tahun berkarya di tengah-tengah aksi penganiayaan terhadap orang-orang Kristen oleh kaisar Diokletianus, Primus dan Felicianus selalu terhindar dari usaha penangkapan.
Tetapi akhirnya mereka di tangkap juga pada tahun 297 dan dipenjarakan bersama orang-orang Kristen lainnya. Namun demikian iman mereka tidak goncang sedikitpun. Mereka saling menghibur dan dengan tekun saling meneguhkan sesamanya yang lain. Setelah beberapa waktu, mereka di bawa ke Nomentum, kota kecil yang berjarak 12 mil dar Roma. Mereka diadili oleh Promotus. Dakwaan dan berbagai ancaman dikenakan pada mereka, namun iman mereka tidak goyah. Akhirnya mereka dijatuhi hukuman mati penggal kepala.
Jenazah mereka dimakamkan di Nomentum. Pada tahun 649, Sri Paus Theodorus I (642-649) menyuruh memindahkan jasad mereka ke kota San Stephanus Rotondo. Inilah peristiwa pertama, dimana tulang-belulang para martir boleh dibawa keluar kota dari kota Roma.
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari