Dari risalah tentang Yohanes oleh Santo Agustinus, uskup
Perintah baru
Perintah baru Kuberikan kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi. Perintah ini yang Ia berikan kepada mereka adalah perintah baru, demikianlah Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya. Namun bukankah itu sudah terkandung dalam Hukum Lama, di mana tertulis: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri? Mengapa Tuhan menyebutnya baru padahal jelas-jelas sudah begitu lama? Atau apakah perintah itu baru karena melepaskan kita dari diri kita yang lama dan mengenakan kita dengan manusia baru? Kasih memang memperbarui manusia yang mendengar, atau lebih tepatnya menaati perintahnya; tetapi hanya kasih yang Yesus bedakan dari kasih alami dengan kualifikasi: Seperti Aku telah mengasihi kamu.
Inilah jenis kasih yang memperbarui kita. Ketika kita mengasihi seperti Ia mengasihi kita, kita menjadi manusia baru, ahli waris perjanjian baru dan penyanyi lagu baru. Saudara-saudaraku, inilah kasih yang bahkan pada zaman dahulu memperbarui orang-orang kudus, para bapa bangsa dan nabi-nabi zaman dahulu. Di kemudian hari itu memperbarui para rasul yang terberkati, dan sekarang giliran bangsa-bangsa lain. Dari seluruh umat manusia di seluruh dunia kasih ini mengumpulkan menjadi satu tubuh umat baru, untuk menjadi mempelai Putra tunggal Allah. Dialah mempelai yang ditanyakan dalam Kidung Agung: Siapakah ini yang datang berpakaian putih? Putih memang pakaiannya, karena ia telah dijadikan baru; dan sumber pembaharuannya tidak lain adalah perintah baru ini.
Maka semua anggotanya saling memperhatikan kesejahteraan satu sama lain. Ketika satu anggota menderita, semua anggota menderita bersamanya, dan jika satu anggota dimuliakan semua anggota lainnya bersukacita. Mereka mendengar dan menaati firman Tuhan: Perintah baru Kuberikan kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; bukan seperti manusia saling mengasihi untuk kepentingan egois mereka sendiri, atau hanya karena kemanusiaan mereka yang sama, tetapi karena mereka semua adalah allah dan anak-anak Yang Mahatinggi. Mereka saling mengasihi seperti Allah mengasihi mereka agar mereka menjadi saudara-saudara Putra tunggal-Nya. Ia akan menuntun mereka ke tujuan yang hanya akan memuaskan mereka, di mana semua keinginan mereka akan terpenuhi. Karena ketika Allah adalah segalanya dalam segalanya, tidak akan ada lagi yang tersisa untuk diinginkan.
Kasih ini adalah karunia Tuhan yang berkata: Seperti Aku telah mengasihi kamu, kamu juga harus saling mengasihi. Tujuan-Nya dalam mengasihi kita, kemudian, adalah untuk memungkinkan kita saling mengasihi. Dengan mengasihi kita sendiri, kepala kita yang perkasa telah menghubungkan kita semua sebagai anggota tubuh-Nya sendiri, terikat satu sama lain oleh ikatan kasih yang lembut.