Cat di Tembok Lembab
Tembok yang lembab tidak bisa disembuhkan dengan cat. Dicat seputih apa pun, beberapa bulan kemudian nodanya muncul lagi, mengelupas, menghitam. Tukang yang jujur akan bilang: bocornya dulu dibereskan, baru dicat.
Kemarin Yesus menyuruh membersihkan bagian dalam cawan. Hari ini gambar-Nya lebih keras: kamu seperti kuburan yang dilabur putih, sebelah luarnya bersih tampaknya, sebelah dalamnya penuh tulang belulang. Kemunafikan memang seperti cat pada tembok lembab: menolong penampilan sebentar, tidak menyembuhkan apa-apa.
Bacaan pertama menyodorkan lawannya: hidup yang isinya boleh diperiksa. Paulus berani berkata kepada jemaat Tesalonika: kamu sendiri tahu bagaimana kami hidup di antara kamu. Kami berjerih payah siang malam supaya tidak menjadi beban siapa pun. Lalu nasihatnya yang terkenal lugas: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Orang Jawa punya padanannya: ora obah, ora mamah. Tidak bergerak, tidak makan.
Iman yang sehat memang kelihatan dari hal-hal sesederhana itu: cara kita bekerja, menepati janji, tidak menumpang hidup pada keringat orang lain. Kesalehan tanpa kejujuran hidup hanyalah labur putih.
Mana yang lebih sering kita rawat: tembok depan yang dilihat orang, atau ruang dalam yang dilihat Allah?
Tuhan, aku lelah berdandan di luar. Sembuhkanlah lembab di dalam hatiku. Amin.