Bacaan Misa
Hari ini didaraskan Kemuliaan dan Aku Percaya.
Ia ditikam karena kejahatan kita
Beginilah Firman Tuhan, “Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil! Ia akan ditinggikan, disanjung, dan dimuliakan! Seperti banyak orang tertegun melihat dia – rupanya begitu buruk, tidak seperti manusia lagi, dan tampaknya tidak seperti anak manusia lagi – demikianlah ia akan membuat tercengang banyak bangsa, dan raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat dia! Sebab, apa yang tidak diceritakan kepada mereka akan mereka lihat, dan yang tidak mereka dengar akan mereka pahami. Maka, mereka berkata: Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan? Sebagai taruk Hamba Yahwe tumbuh di hadapan Tuhan, dan sebagai tunas ia muncul dari tanah kering. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan, dan biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina sehingga orang menutup mukanya terhadap dia, dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Ia tidak tampan, dan semarak pun tidak ada padanya sehingga kita tidak tertarik untuk memandang dia; dan rupanya pun tidak menarik sehingga kita tidak terangsang untuk menginginkannya. Tetapi sesungguhnya, penyakit kita lah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita lah yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Sesungguhnya dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; derita yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing mengambil jalan sendiri! Tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas, dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan waktu mati ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan, dan tipu tidak ada di dalam mulutnya. Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan, dan apabila ia menyerahkan dirinya sebagai kurban silih, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak Tuhan akan terlaksana karena dia. Sesudah kesusahan jiwanya, ia akan melihat terang dan menjadi puas. Sebab Tuhan berfirman, hamba-Ku, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul. Sebab itu, Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan. Ini semua sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara para pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang, dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.
Refren: Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu ‘kupercayakan jiwaku.
Pada-Mu, ya Tuhan, aku berlindung, jangan sekali-sekali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu, ke dalam tangan-Mu, kuserahkan nyawaku; sudilah membebaskan daku, ya Tuhan, Allah yang setia.
Di hadapan semua lawanku aku tercela, tetangga-tetanggaku merasa jijik, para kenalanku merasa ngeri; mereka yang melihat aku cepat-cepat menyingkir. Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati, telah menjadi seperti barang pecah.
Tetapi aku, kepada-Mu, ya Tuhan, aku percaya, aku berkata “Engkaulah Allahku!” Masa hidupku ada dalam tangan-Mu. Lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan bebaskan dari orang-orang yang mengejar aku!
Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada Tuhan.
Ia telah belajar menjadi taat, dan menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.
Saudara-saudara, kita sekarang mempunyai Imam Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah. Maka, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab, Imam Agung yang kita punya, bukanlah imam agung yang tidak dapat turut merasakan kelemahan kita! Sebaliknya Ia sama dengan kita! Ia telah dicobai, hanya saja tidak berbuat dosa. Sebab itu, marilah kita menghampiri takhta kerahiman Allah dengan penuh keberanian supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapatkan pertolongan pada waktunya. Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Yesus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan pada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut; dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan. Akan tetapi, sekalipun Anak, Ia telah belajar menjadi taat; ini ternyata dari apa yang telah diderita-Nya! Dan sesudah mencapai kesempurnaan, Ia menjadi pokok keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.
Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Seusai perjamuan Paskah, keluarlah Yesus dari ruang perjamuan bersama murid-murid-Nya, dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman. Yesus masuk ke taman itu bersama dengan murid-murid-Nya. Yudas yang mengkhianati Yesus tahu juga tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya. Maka, datanglah juga Yudas ke situ bersama sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Faarisi. Mereka datang lengkap dengan lentera, suluh, dan senjata. Yesus tahu semua yang akan menimpa diri-Nya. Maka, Ia maju ke depan dan berkata kepada mereka.
+ “Siapakah yang kamu cari!”
N: Jawab mereka,
SO: Yesus dari Nazaret!”
N: Kata Yesus kepada mereka,
+ “Akulah Dia.”
N: Yudas yang mengkhianati Yesus berdiri juga di situ bersama-sama mereka. Ketika Yesus berkata kepada mereka ‘Akulah Dia’, mundurlah mereka, dan jatuh ke tanah. Maka, Yesus bertanya pula,
+ “Siapakah yang kamu cari?”
N: Jawab mereka,
SO: “Yesus dari Nazaret!”
N: Jawab Yesus,
+: “Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.”
N: Demikianlah terjadi supaya genaplah Firman yang telah dikatakan-Nya: Dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorang pun yang Kubiarkan hilang. Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang itu, dan menetakkannya kepada hamba Imam Agung dan memutuskan telinga kanannya. Nama hamba itu Malkhus. Kata Yesus kepada Petrus,
+: “Sarungkanlah pedangmu itu! Bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?”
N: Maka para prajurit serta perwiranya, dan penjaga-penjaga yang disuruh orang Yahudi itu menangkap Yesus dan membelenggu Dia. Lalu mereka membawa Yesus mula-mula kepada Hanas, karena Hanas adalah mertua Kayafas, yang pada tahun itu menjadi Imam Agung; dan Kayafaslah yang telah menasihatkan kepada orang-orang Yahudi: Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa. Simon Petrus dan seorang murid lain mengikuti Yesus. Murid itu mengenal Imam Agung, dan ia masuk ke halaman istana Imam Agung itu. Tetapi Petrus tinggal di luar dekat pintu. Maka, murid lain tadi, yang mengenal Imam Agung, kembali keluar, bercakap-cakap dengan perempuan penjaga pintu, lalu membawa Petrus masuk. Maka, kata perempuan penjaga pintu itu kepada Petrus,
W: “Bukanlah engkau juga murid orang itu?”
N: Jawab Petrus,
Ptr: “Bukan!”
N: Sementara itu hamba-hamba dan para penjaga Bait Allah telah memasang api arang, sebab hawanya dingin waktu itu, dan mereka berdiri berdiang di situ. Petrus pun berdiri berdiang bersama-sama dengan mereka. Maka, mulailah Imam Agung menanyai Yesus tentang para murid dan tentang ajaran-Nya. Jawab Yesus kepadanya,
+: “Aku berbicara terus terang kepada dunia! Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi. Mengapakah engkau menanyai Aku? Tanyailah mereka, yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan.”
N: Ketika Yesus berkata demikian, seorang penjaga yang berdiri di situ menampar muka Yesus sambil berkata,
S: “Begitukah jawab-Mu kepada Imam Agung?”
N: Jawab Yesus kepadanya,
+ “Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau benar, mengapa engkau menampar Aku?”
N: Lalu Hanas mengirim Yesus terbelenggu kepada Kayafas, Imam Agung. Simon Petrus masih berdiri berdiang. Kata orang-orang di situ kepadanya,
R: “Bukankah engkau juga seorang murid Yesus?”
N: Petrus menyangkalnya, katanya,
Ptr:“Bukan!”
N: Salah seorang hamba Imam Agung, keluarga dari hamba yang telinganya dipotong Petrus, berkata kepadanya,
R: “Bukankah engkau kulihat di taman itu bersama-sama dengan Yesus?”
N: Maka Petrus menyangkal lagi dan ketika itu berkokoklah ayam. Keesokan harinya mereka membawa Yesus dari istana Kayafas ke gedung pengadilan. Ketika itu hari masih pagi. Mereka sendiri tidak masuk ke gedung pengadilan itu supaya jangan menajiskan diri sebab mereka hendak makan Paskah. Sebab itu Pilatus keluar mendapatkan mereka dan berkata,
PP: “Apakah tuduhanmu terhadap orang ini?”
N: Jawab mereka kepadanya,
SO: “Jikalau Ia bukan penjahat, kami tidak menyerahkan-Nya kepadamu!”
N: Kata Pilatus kepada mereka,
PP: “Ambillah Dia, dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu!”
N: Kata orang-orang Yahudi itu,
SO: “Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang.”
N: Demikianlah terjadi supaya genaplah Firman Yesus yang dikatakannya untuk menyatakan bagaimana Ia akan mati. Maka, kembalilah Pilatus ke dalam Gedung pengadilan, lalu memanggil Yesus dan bertanya kepada-Nya,
PP: “Engkau inikah raja orang Yahudi?”
N: Jawab Yesus
+: “Dari hatimu sendirikah engkau katakana hal itu? Atau adakah orang lain yang mengatakan kepadamu tentang Aku?”
N: Kata Pilatus,
PP: “Orang Yahudikah aku? Bangsa-Mu sendiri dan imam-imam kepala telah menyerahkan Engkau kepadaku. Apakah yang telah Engkau perbuat?”
N: Jawab Yesus,
+ “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini! Jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku sudah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi. Akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini!”
N: Maka kata Pilatus kepada-Nya,
PP: “Jadi Engkau adalah raja.”
N: Jawab Yesus,
+: “Seperti yang kaukatakan Aku adalah raja! Untuk itulah Aku lahir, dan untuk itulah Aku datang ke dunia ini, yakni untuk memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”
N: Kata Pilatus kepada-Nya,
PP: “Apakah kebenaran itu?”
N: Sesudah mengatakan demikian, Pilatus keluar lagi mendapatkan orang-orang Yahudi, dan berkata kepda mereka.
PP: “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya. Tetapi padamu ada kebiasaan, bahwa pada Hari Raya Paskah aku membebaskan seorang bagimu. Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi ini bagimu?
N: Mereka pun berteriak,
SO: “Jangan Dia, melainkan Barabas!”
N: Barabas adalah seorang penyamun. Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia. Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri, dan menaruhnya di atas kepala Yesus. Mereka mengenakan jubah ungu pada-Nya, dan sambil maju ke depan mereka berkata,
S: “Salam, hai raja orang Yahudi!”
N: Lalu mereka menampar wajah Yesus. Pilatus keluar lagi dan berkata kepada orang-orang Yahudi,
PP: “Lihatlah aku membawa Dia keluar kepada kamu, supaya kamu tahu bahwa aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya.”
N: Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka, kata Pilatus kepada mereka,
PP: “Lihatlah manusia ini!”
N: Ketika para imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Yesus, berteriaklah mereka,
SO: “Salibkan Dia, salibkan Dia!”
N: Kata Pilatus kepada mereka,
PP: “Ambil saja sendiri dan salibkanlah Dia! Sebab aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya.”
N: Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya.
SO: “Kami mempunyai hukum, dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah.”
N: Ketika Pilatus mendengar perkataan itu bertambah takutlah ia. Lalu Ia masuk pula ke dalam gedung pengadilan, dan berkata kepada Yesus,
PP: “Dari manakah asal-Mu?”
N: Tetapi Yesus tidak memberi jawab kepadanya. Maka, kata Pilatus,
PP: “Tidakkah Engkau mau berbicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?”
N: Yesus menjawab,
+: “Engkau tidak mempunyai kuasa apa pun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan dari atas. Sebab itu, dia yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya.”
N: Sejak saat itu Pilatus berusaha untuk membebaskan Yesus, tetapi orang-orang Yahudi berteriak,
SO: “Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat kaisar. Setiap orang yang menganggap diri raja, melawan kaisar.”
N: Ketika mendengar perkataan itu, Pilatus menyuruh Yesus keluar. Lalu ia duduk di kursi pengadilan, di tempat yang bernama Litostrotos, dalam bahasa Ibrani: Gabata. Hari itu ialah hari persiapan Paskah, kira-kira jam dua belas. Kata Pilatus kepada orang-orang Yahudi itu,
PP: “Inilah rajamu!”
N: Maka berteriaklah mereka,
SO: “Enyahkan Dia! Enyahkan Dia! Salibkan Dia!”
N: Kata Pilatus kepada mereka,
PP: “Haruskah aku meyalibkan rajamu?
N: Jawab imam-imam kepala,
SO: “Kami tidak mempunyai raja selain kaisar!”
N: Akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. Dan mereka menerima Yesus. Sambil memikul salib-Nya, Yesus dibawa ke luar kota, ke tempat yang bernama Tengkorak, dalam Bahasa Ibrani: Golgota. Di situ Yesus disalibkan, dan bersama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah. Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu itu, bunyinya: Yesus Orang Nazaret, Raja Orang Yahudi. Banyak orang Yahudi membaca tulisan itu, sebab tempat Yesus disalibkan itu letaknya dekat kota, dan kata-kata itu tertulis dalam Bahasa Ibrani, Latin, dan Yunani. Maka, kata imam-imam kepala kepada Pilatus,
Im: “Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi: Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi.”
N: Jawab Pilatus,
PP: “Apa yang kutulis tetap tertulis!”
N: Setelah prajurit-prajurit menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian Yesus, lalu membaginya menjadi empat bagian, masing-masing prajurit satu bagian. Jubah Yesus pun mereka ambil. Tetapi jubah itu tidak berjahit, dari atas sampai ke bawah merupakan satu tenunan utuh. Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain,
S: “Janganlah kita membagi jubah ini menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang akan mendapatnya.”
N: Demikianlah terjadi supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka, dan membuang undi atas jubah-Ku. Hal itu telah dilakukan oleh prajurit-prajurit itu. Di dekat salib Yesus berdirilah ibu Yesus dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Kleopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang Ia kasihi di samping-Nya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya,
+ “Ibu, inilah anakmu!”
N: Dan kemudian kata-Nya kepada murid itu,
+: “Inilah ibumu!”
N: Dan sejak saat itu murid itu menerima Maria di dalam rumahnya. Sesudah itu, karena Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia – supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci, -
+ “Aku haus!”
N: Lalu Yesus menundukkan kepala dan menyerahkan nyawa-Nya.
(Semua berlutut dan diam sejenak)
N: Karena hari itu adalah masa persiapan Paskah, dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib – sebab Sabat itu adalah hari yang besar – maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan, dan mayat-mayatnya diturunkan. Maka, datanglah prajurit-prajurit, lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama dengan Yesus. Tetapi Ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya. Tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung Yesus dengan tombak, dan segera mengalirlah darah serta air keluar. Dan orang yang melihat sendiri hal itu yang memberi kesaksian ini, dan benarlah kesaksiannya. Dan ia tahu bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya. Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis di dalam Kitab Suci: Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan; dan nas lain yang mengatakan: Mereka akan memandang Dia yang telah mereka tikam. Sesudah itu Yusuf dari Arimatea, (Yusuf ini adalah seorang murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi) meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan jenazah Yesus. Pilatus meluluskan permintaan Yusuf. Maka, datanglah Yusuf dan menurunkan jenazah Yesus. Juga Nikodeus datang di situ. Dialah yang dulu datang malam-malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya. Mereka mengambil jenazah Yesus, mengafaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat pemakaman orang Yahudi. Di dekat tempat Yesus disalibkan itu ada suatu taman, dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. Karena hari itu hari persiapan Paskah orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka membaringkan jenazah Yesus di situ.
Imam yang Ikut Merasakan
Hari ini altar kosong. Tabernakel terbuka dan lengang. Gereja diam, lonceng berhenti, dan kita berdiri di depan salib. Pada hari ini kata-kata sebaiknya sedikit, sebab yang terjadi terlalu besar untuk banyak bicara.
Nabi Yesaya, tujuh ratus tahun sebelumnya, sudah melukiskan wajah hari ini. "Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan." Dan kalimat yang menjadi inti segalanya, "Sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya. Oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." Ia menderita bukan karena salah-Nya sendiri, melainkan karena luka kita.
Di sinilah bacaan kedua menolong kita mengerti mengapa Allah memilih jalan seperti ini. Surat Ibrani berkata kita mempunyai Imam Besar yang bukan imam yang tidak dapat turut merasakan kelemahan kita. Sebaliknya, sama seperti kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Renungkanlah betapa mengherankannya kalimat itu. Allah tidak menyelamatkan kita dari jauh, dari singgasana yang bersih dan aman. Ia turun masuk ke dalam rasa sakit itu sendiri.
Siapa yang pernah menunggui orang sakit tahu bedanya. Ada penghibur yang berdiri di ambang pintu dan berkata, yang sabar ya. Lalu ada penghibur yang duduk di samping ranjang, menggenggam tangan, karena ia sendiri pernah terbaring di ranjang yang sama. Kata-katanya mungkin sama, tetapi bobotnya berbeda. Yang satu bicara tentang penderitaan; yang lain bicara dari dalam penderitaan.
Yesus di kayu salib adalah penghibur jenis kedua. Ketika kita berdoa dalam sakit, dalam takut, dalam rasa ditinggalkan, kita tidak sedang bicara kepada Allah yang tak paham. Kita bicara kepada Dia yang pernah haus, pernah ditinggal murid-murid-Nya, pernah menyerahkan ibu-Nya kepada orang lain, pernah merasakan tubuh yang dipaku.
Surat Ibrani menutup dengan undangan yang mengejutkan untuk hari sesuram ini: "Marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia." Justru pada Jumat Agung, ketika Allah tampak paling kalah, kita paling berani mendekat. Sebab takhta itu ternyata sebuah salib, dan Raja yang duduk di sana memahami setiap luka yang kita bawa.
Hari ini kita hanya diminta berdiri diam di depan-Nya, dan membiarkan diri dikenali oleh Dia yang ikut merasakan.
Yesus, Imam Besar yang ikut merasakan, Engkau tidak menyelamatkan aku dari jauh melainkan dari dalam luka itu sendiri. Ke dalam tangan-Mu yang berpaku, kuserahkan segala sakitku. Amin.
Invitatorium
Pembukaan
AntifonMarilah kita menyembah Kristus, Putera Allah yang menebus kita dengan darahNya.
Mazmur 94 (95)
AntifonMarilah kita menyembah Kristus, Putera Allah yang menebus kita dengan darahNya.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Raja-raja dunia bangkit memberontak; para penguasa bersekongkol melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya.
Mazmur 2
Mesias, Raja dan Penakluk
Para penguasa bumi bersatu untuk menggulingkan Yesus, Putra-Mu yang terurapi (Kis. 4:27).
AntifonRaja-raja dunia bangkit memberontak; para penguasa bersekongkol melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya.
Antifon 2Mereka membagi-bagi pakaianku; mereka membuang undi untuk jubahku.
Mazmur 21 (22):2-23
Allah mendengar penderitaan Yang Kudus-Nya
Yesus berseru dengan suara nyaring: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Matius 27:46)
AntifonMereka membagi-bagi pakaianku; mereka membuang undi untuk jubahku.
Antifon 3Mereka berusaha mengambil nyawaku dengan kekerasan.
Mazmur 37 (38)
Seorang pendosa dalam bahaya besar berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah
Semua sahabat-Nya berdiri dari kejauhan (Lukas 23:49).
AntifonMereka berusaha mengambil nyawaku dengan kekerasan.
Bacaan
Bacaan Pertama
Responsorium Lihat Yesaya 53:7, 12
Bacaan Kedua
Responsorium (1 Petrus 1:18-19; Efesus 2:18; 1 Yohanes 1:7)
Te Deum
Doa Penutup
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Allah tidak sayang akan PuteraNya sendiri, tetapi menyerahkanNya untuk kita semua.
Mazmur 50 (51)
Antifon 1Allah tidak sayang akan PuteraNya sendiri, tetapi menyerahkanNya untuk kita semua.
Antifon 2Yesus Kristus mengasihi kita dan melepaskan kita dari dosa dengan darahNya.
Hab 3,2-4.13a.15-19
Antifon 2Yesus Kristus mengasihi kita dan melepaskan kita dari dosa dengan darahNya.
Antifon 3Ya Tuhan, salibMu kami sembah, kebangkitanMu yang suci kami muliakan dan kami puji, sebab berkat salib itu, seluruh bumi dipenuhi sukacita.
Mazmur 147 (147B)
Antifon 3Ya Tuhan, salibMu kami sembah, kebangkitanMu yang suci kami muliakan dan kami puji, sebab berkat salib itu, seluruh bumi dipenuhi sukacita.
AntifonKristus taat untuk kita sampai wafat, sampai wafat di salib.
Antifon KidungDi atas kepala Yesus pada salib dipasang tulisan dakwaanNya: Yesus dari Nazaret, raja bangsa Yahudi.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungDi atas kepala Yesus pada salib dipasang tulisan dakwaanNya: Yesus dari Nazaret, raja bangsa Yahudi.
Doa Permohonan:
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (Is 53, 2-3)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Antifonifon dan Mazmur diambil dari Jumat II, hlm. 579
Madah
Antifon 1Semoga kasih setiaMu menghibur aku sesuai dengan janjiMu.
Mazmur 118 (119),73-80
Antifon 1Semoga kasih setiaMu menghibur aku sesuai dengan janjiMu.
Antifon 2Lindungilah aku terhadap serangan lawan, ya Allahku.
Mazmur 58 (59),2-6a.9-11.17-18
Antifon 2Lindungilah aku terhadap serangan lawan, ya Allahku.
Antifon 3Berbahagialah orang yang dihajar Allah, sebab sungguhpun Allah melukai, namun Ia menyembuhkan juga.
Mazmur 59 (60)
Antifon 3Berbahagialah orang yang dihajar Allah, sebab sungguhpun Allah melukai, namun Ia menyembuhkan juga.
Bacaan Singkat: (Yes 53,4-5)
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (Is 53, 6-7)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Perhatikanlah, hai segenap bangsa, dan pandanglah kesusahanku.
Antifon 1Perhatikanlah, hai segenap bangsa, dan pandanglah kesusahanku.
Antifon 2Semangatku lemah lesu di dalam diriku, hatiku tertegun di dalam tubuhku.
Mazmur 142 (143),1-11
Antifon 2Semangatku lemah lesu di dalam diriku, hatiku tertegun di dalam tubuhku.
Antifon 3Sesudah Yesus mencicip cuka, Ia berkata: Selesailah sudah. Lalu Ia menundukkan kepala dan menyerahkan rohNya.
Flp 2,6-11
Antifon 3Sesudah Yesus mencicip cuka, Ia berkata: Selesailah sudah. Lalu Ia menundukkan kepala dan menyerahkan rohNya.
Bacaan Singkat: (Yak 5,16.19-20)
Antifon KidungKetika kita masih orang berdosa, hubungan kita dengan Allah dipulihkan berkat kematian Kristus.
Kidung Maria Luk 1,46-55
Antifon KidungKetika kita masih orang berdosa, hubungan kita dengan Allah dipulihkan berkat kematian Kristus.
Doa Permohonan:
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Doa Tobat
Tuhan, kasihanilah kami.℟.Tuhan, kasihanilah kami.℣.Engkau datang memanggil orang yang berdosa.
Kristus, kasihanilah kami.℟.Kristus, kasihanilah kami.℣.Engkau duduk di sisi Bapa sebagai pengantara kami.
Tuhan, kasihanilah kami.℟.Tuhan, kasihanilah kami.℣.Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita dan mengantar kita ke hidup yang kekal.℟.Amin.
Madah
AntifonSiang malam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan.
Mazmur 87 (88)
AntifonSiang malam aku berseru kepadaMu, ya Tuhan.
Bacaan singkat Yer 14,9
Lagu singkat
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Santa Lidwina
Lidwina lahir di Shiedam, negeri Belanda pada hari Minggu Palem tahun 1380. Orangtuanya dikenal sebagai orang beriman yang saleh dan taat agama. Ayahnya, seorang penjaga malam yang setia pada tugasnya. Dalam keluarganya, ia anak wanita satu-satunya. Ia cantik sekali. Sering ia merasa terganggu oleh kecantikannya, dan karena itu ia meminta kepada Tuhan untuk mengurangi kecantikannya. Semenjak kecil ia sudah tidak tertarik pada kekayaan duniawi. Sejak berumur 15 tahun, ia sudah mengucapkan kaul kemurnian. Pada musim dingin yang hebat tahun 1395-1396, ia menderita sakit keras tetapi segera sembuh kembali ketika ia diundang kawan-kawannya bermain ski disebuah bendungan salju. Namun sial sekali nasibnya: ia terjatuh dan patah tulang rusuknya. Ia menjadi lumpuh dan selama 38 tahun hanya hidup dari komuni kudus saja. Sementara itu ia masih juga menderita berbagai rasa sakit di sekujur tubuhnya hingga tidak bisa berbaring dan tidur dengan nyenyak. Dokter pun tidak mampu menyembuhkan penyakitnya. Pada masa itu Lidwina sendiri masih jauh dari panggilan hidup sucinya dan menginginkan kesembuhan seperti anak-anak lain.
Cahaya hidup baru terbit ketika pastor, bapa rohaninya: Yohanes Pot, mengunjunginya secara teratur. Pastor itu memberinya satu nasehat yang sederhana tetapi tepat, yaitu supaya Lidwina sabar dan mempersatukan penderitaannya dengan penderitaan Kristus. Sejak itu ia terhibur dan mulai saat serta berusaha merenungkan sengsara Kristus. Dan setelah tiga tahun ia merasa terpanggil untuk menderita bagi dosa-dosa orang lain. Sejak saat itu ia tidak ingin lagi akan kesembuhan sebagaimana yang dikehendakinya dahulu. Ia mulai bermatiraga dan tidak mau lagi dirawat. Tidurnya cukup diatas sebuah papan keras. Dengan sabar ia menggeletak di papan itu dan hidup dari komuni kudus yang diantarkan oleh pastornya. Hidup rohaninya pun semakin berkembang sehingga Tuhan menambahkan berbagai kekuatan baginya dalam menghadapi cobaan-cobaan lain yang lebih besar seperti serangan penyakit dan kehilangan kecantikannya.
Sakitnya yang aneh itu menggemparkan semua penduduk daerah itu; sampai-sampai Raja William VI bersama Margaretha Burgundia mengirimkan dokter pribadinya: Godfried de la Haye untuk merawatnya. Anehnya, dari luka-lukanya keluarlah bau harum; dan walaupun kamarnya tidak diterangi lampu, namun terang benderang karena cahaya ajaib dari surga. Masih banyak mukzijat lainnya selama ia menderita sakit.
Kira-kira pada tahun 1407 ia mengalami ekstase dan pengalaman-pengalaman mistik lainnya. Lidwina akhirnya meninggal dunia pada tahun 1433.
Santo Tiburtius
Ketiga pemuda ini dikenal sebagai pahlawan iman Kristen yang dibunuh oleh penguasa Romawi di kota Roma. Jenazah mereka di kuburkan di Katakombe Praetaxtatus, Roma sekitar 229 / 230.
Tiburtius adalah adik kandung Valerianus. Kisah tentang keanggotaan mereka dalam gereja hingga menjadi Martir dihubungkan dengan Sata Sesilia. Sesilia adalah tunangan Valerianus, pemuda yang belum menganut agama Kristen. Ketika hari pernikahan mereka tiba, Sesilia dengan tulus membisikkan kepada Valerianus, calon suaminya agar membatalkan saja pernikahan mereka karena ia telah menjanjikan kemurnian dirinya kepada Tuhan. Valerianus yang tulus hati itu mengindahkan permohonan Sesilia, calon istrinya. Ia tidak marah, malah sebaliknya meminta Sesilia agar mengajari dia iman Kristen dan mengusahakan pembaptisannya. Demikian pula Tiburtius adik Valerianus.
Setelah menjadi Kristen, kedua kakak-beradik ini dengan giat menyebarkan iman Kristen dan rajin menguburkan jenazah para Martir yang dibunuh. Melihat itu, penguasa Romawi menangkap dan menyiksa mereka. Pada peristiwa itu, Maximus seorang tentara Romawi yang turut dalam penyiksaan atas diri Tiburtius dan Valerianus, terharu dan kagum akan ketahanan dan ketabahan hati kedua bersaudara itu. Lalu ia pun dengan berani mengaku dirinya sebagai seorang murid Kristus. Akibatnya ia pun disiksa dan dibunuh bersama Tiburtius dan Valerianus.
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari