Bacaan Misa
Hari ini didaraskan Kemuliaan dan Aku Percaya.
Allah melihat segala yang dijadikan-Nya, sungguh amat baik.
Pada awal mula Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan masih kosong. Gelap gulita meliputi samudera raya. Dan, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Allah berfirman, “Jadilah terang!” Maka, jadilah terang. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nya terang itu dari gelap. Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Maka, jadilah petang dan pagi: hari pertama. Lalu Allah berfirman, “jadilah cakrawala di tengah segala air, untuk memisahkan air dari air.” Maka Allah menjadikan cakrawala, dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang berada di atasnya. Dan jadilah demikian. Allah menamai cakrawala itu langit. Maka, jadilah petang dan pagi: hari kedua. Lalu Allah berfirman, “Hendaknya segala air yang ada di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian. Allah menamai yang kering itu darat dan kumpulan air itu laut. Allah melihat bahwa semua itu baik. Lalu Allah berfirman, “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Maka, jadilah petang dan pagi: hari ketiga. Lalu Allah berfirman, “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap, menunjukkan hari dan tahun; dan sebagai penerang pada cakrawala, biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian. Maka, Allah menjadikan dua benda penerangan yang besar, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam; dan Allah menjadikan juga bintang-bintang. Semuanya itu ditaruh Allah di cakrawala untuk menerangi bumi, dan untuk menguasai siang serta malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Maka jadilah petang dan pagi: hari keempat. Lalu Allah berfirman, “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala.” Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk yang bergerak, yang berkeriapan dalam air dan segala burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Lalu Allah memberkati semuanya itu, Firman-Nya, “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.” Maka jadilah petang dan pagi: hari kelima. Lalu Allah berfirman, “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak, dan binatang melata serta segala jenis binatang liar.” Dan jadilah demikian. Allah menjadikan segala jenis binatang liar, segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Lalu Allah berfirman, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, atas ternak dan atas seluruh bumi, serta atas segala binatang melata yang merayap di muka bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya; menurut gambar Allah diciptakannya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka, “Beranakcucu dan bertambah banyaklah, penuhilah bumi dan taklukkanlah, berkuasalah atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Lalu Allah berfirman, “Lihatlah Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji. Itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di bumi dan kepada burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian. Maka, Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh sangat baik. Maka, jadilah petang dan pagi: hari keenam. Demikianlah langit dan bumi dan segala isinya. Pada hari ketujuh Allah telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuatnya itu. Maka, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.
Refren: Aku wartakan karya agung-Mu Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan.
Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Tuhan Allahku, Engkau sungguh besar! Engkau berpakaian keagungan dan semarak, berselimutkan terang ibarat mantol.
Engkau telah mendasarkan bumi di atas tumpuannya, sehingga takkan goyah untuk selamanya. Dengan samudera raya bumi ini Kauselubungi; air telah naik melampaui gunung-gunung.
Di lembah-lembah Engkau membualkan mata air yang mengalir di antara gunung-gunung. Burung-burung di udara bersarang di dekatnya, bersiul-siul di antara dedaunan.
Dari bangsal-Mu, Engkau menyirami gunung-gunung, bumi penuh dengan segala yang Kauturunkan dari langit. Engkau menumbuhkan rumput bagi hewan, dan tumbuh-tumbuhan untuk diusahakan manusia, Engkau mengeluarkan makanan dari dalam tanah.
Betapa banyak karya-Mu, ya Tuhan, semuanya Kaubuat dengan kebijaksanaan. Bumi penuh dengan ciptaan-Mu: Pujilah Tuhan, hai jiwaku!
(atau bila ada pembaptisan – lih. Mazmur Tanggapan 5 – Yes 12)
atau
Mazmur Tanggapan 1b – Mzm. 33:4-5.6-7.12-13.20.22; Ul:5b
Ulangan: Aku wartakan karya agung-Mu Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan.
Bersukacitalah, sebab Firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hukum, bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
Oleh Firman Tuhan langit telah dijadikan, oleh napas dari mulut-Nya diciptakan segala tentara-Nya. Ia mengumpulkan air laut seperti dalam kantung, samudera raya ditaruh-Nya dalam bejana.
Berbahagialah bangsa yang Allahnya Tuhan, suku bangsa yang dipilih Allah menjadi milik pusaka-Nya. Tuhan memandang dari surga, dan melihat semua anak manusia.
Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan, Dialah penolong dan perisai kita. Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.
Doa 1a
Sesudah bacaan pertama (Penciptaan: Kej. 1:1-2:2 atau 1:1.26-31a dan Mzm 104 atau 33)
I: Marilah kita berdoa.
Allah Yang Mahakuasa dan kekal, sungguh mengagumkan seluruh rencana dan karya penyelamatan-Mu. Terangilah umat-Mu yang telah Engkau tebus agar memahami bahwa karya penciptaan-Mu pada awal mula sungguh agung, namun lebih agung karya penebusan kami yang berlangsung sampai pada kepenuhan masa dalam kurban Paskah Kristus, yang hidup dan berkuasa sepanjang masa.
U: Amin.
Atau mengenai penciptaan manusia:
I: Marilah kita berdoa.
Allah Yang Mahakuasa, Engkau telah menciptakan manusia secara mengagumkan, dan lebih mengagumkan lagi karya penebusan-Mu dalam diri kami. Semoga kami bertahan menentang godaan dosa agar kami layak masuk dalam sukacita surgawi. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.
U: Amin.
Kurban Abraham leluhur kita
Setelah Abraham mendapat anak, Ishak, maka Allah mencobai Abraham. Ia berfirman kepadanya, “Abraham.” Abraham menyahut, “Ya, Tuhan.” Firman Tuhan, “Ambillah anak tunggal kesayanganmu, yaitu Ishak, pergilah ke tanah Moria, dan persembahkanlah dia sebagai kurban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.” Keesokan harinya, pagi-pagi benar, bangunlah Abraham. Ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya. Ia membelah juga kayu untuk kurban bakaran itu. Lalu berangkatlah ia, dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangannya dan melihat tempat itu dari jauh. Kata Abraham kepada kedua bujangnya, “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini. Aku beserta anakku akan pergi ke sana. Kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” Lalu Abraham mengambil kayu untuk kurban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedangkan ia sendiri membawa api dan pisau di tangannya. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya, “Bapa!” Sahut Abraham, “Ya Anakku.” Bertanyalah Ishak, “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk kurban bakaran itu?” Sahut Abraham, “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk kurban bakaran bagi-Nya, Anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama dan sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepada Abraham. Abraham lalu mendirikan mezbah di situ dan Menyusun kayu. Kemudian Ishak, anaknya itu, diikat dan diletakkanya di atas mezbah, di atas kayu api itu. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Tetapi berserulah Malaikat Tuhan dari langit, “Abraham, Abraham!” Sahut Abraham, “Ya, Tuhan.” Lalu Tuhan berfirman, “Jangan kaubunuh anak itu, dan jangan kau apa-apakan dia, sebab kini Aku tahu bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.” Abraham lalu menoleh dan melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut pada belukar. Diambilnya domba itu, lalu dipersembahkannya sebagai kurban pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu “Tuhan menyediakan”. Sebab itu sampai sekarang dikatakan orang, “Di atas gunung, Tuhan menyediakan.” Untuk kedua kalinya berserulah Malaikat Tuhan dari langit kepada Abraham, katanya, “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri – demikianlah Firman Tuhan – karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut. Dan keturunanmu akan menduduki kota-kota musuhnya. Melalui keturunanmulah segala bangsa di bumi akan mendapat berkat sebab engkau menaati Firman-Ku.”
“Mengapa kamu mencari yang hidup di antara orang mati?”
Pagi-pagi benar, pada hari pertama dalam pekan, wanita-wanita pergi ke makam dan memawa serta rempah-rempah, yang telah mereka sediakan. Mereka mendapati batu sudah terguling dari makam. Ketika masuk ke dalam makam, mereka tidak melihat jenazah Yesus. Mereka sangat bingung. Tiba-tiba berdirilah di hadapan mereka dua orang pemuda berpakaian putih berkilau-kilauan. Wanita-wanita itu amat terkejut dan menundukkan kepala, tetapi kedua pemuda itu berkata, “Mengapa kamu mencari yang hidup di antara orang mati? Dia tidak lagi di sini. Dia sudah bangkit. Ingatlah akan perkataan, yang telah disampaikan-Nya kepadamu: Putra Manusia harus diserahkan ke tangan orang berdosa, disalibkan, dan bangkit pada hari ketiga.” Mereka pun teringat kembali akan perkataan Yesus itu. Sekembali dari makam, mereka menceritakan semuanya ini kepada kesebelas murid-Nya dan semua orang lain. Wanita-wanita itu ialah Maria Magdalena, Yoana, Maria ibunda Yakobus serta wanita-wanita lain, yang selalu bersama-sama murid-murid Yesus. Mereka memberitahukan hal-hal itu kepada para rasul. Tetapi para rasul tidak percaya; mereka menganggap cerita itu omong kosong. Namun Petrus berdiri dan berlari ke makam; ia menjenguk ke dalam makam, tetapi yang dilihat hanya kain kafan. Ia pun kembali keheran-heranan memikirkan apa yang terjadi.
Mencari di Tempat yang Salah
Malam ini adalah malam menunggu. Yesus terbaring di kubur, batu sudah ditutup, dan dunia seakan menahan napas. Sabtu Suci adalah hari paling sunyi dalam kalender Gereja. Tidak ada Misa di siang hari, tidak ada apa-apa, hanya penantian. Kadang iman memang berupa penantian di depan pintu yang masih tertutup.
Lalu, pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, beberapa perempuan datang ke kubur membawa rempah-rempah. Perhatikan apa yang mereka bawa: rempah untuk mengurapi mayat. Mereka datang dengan asumsi yang wajar, asumsi setiap orang yang pernah kehilangan. Yang mati tetap mati. Yang tinggal hanyalah merawat jenazahnya dengan hormat. Mereka datang untuk berkabung, bukan untuk berjumpa.
Tetapi kubur itu terbuka dan kosong. Dua orang berpakaian berkilau bertanya kepada mereka dengan kalimat yang menggetarkan, "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?" Sebuah teguran yang lembut. Kalian mencari di tempat yang salah. Kubur bukan lagi alamat-Nya.
Betapa sering kita pun mencari yang hidup di antara yang mati. Kita mencari kebahagiaan pada barang-barang yang lekas usang. Kita mencari rasa aman pada hal-hal yang tidak sanggup memberi hidup. Kita datang kepada Tuhan dengan rempah-rempah perkabungan, mengira segalanya sudah berakhir, padahal Ia sudah bangkit mendahului kita.
Kalimat malaikat berikutnya adalah kunci, "Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea." Dan Lukas mencatat, "Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu." Iman mereka bangkit bukan lewat penjelasan baru, melainkan lewat mengingat kembali apa yang sudah pernah mereka dengar. Yesus sudah mengatakannya jauh hari, tetapi baru pagi itu perkataan itu terbuka artinya.
Malam Vigili ini kita mendengar kembali kisah penciptaan, ketika Allah berfirman jadilah terang atas dunia yang gelap dan kosong. Malam ini pula kita mendengar Paulus mengatakan bahwa dalam baptisan kita telah dikuburkan bersama Kristus supaya kita hidup dalam hidup yang baru. Rangkaian itu satu garis: Allah yang dahulu menciptakan terang adalah Allah yang membangkitkan hidup dari kubur. Dari kegelapan yang kosong lahir terang; dari kubur yang tertutup lahir hidup. Pola yang sama itu berlaku juga atas malam-malam kita sendiri.
Maka pada malam yang paling sunyi ini, kita diajak berhenti mencari di tempat yang salah, dan mulai mengingat apa yang sudah dijanjikan.
Tuhan yang bangkit, jangan biarkan aku mencari-Mu di antara yang mati. Bukalah ingatanku pada janji-janji-Mu, dan terangi malam penantianku dengan cahaya kebangkitan-Mu. Amin.
Invitatorium
Pembukaan
AntifonMarilah kita menyembah Kristus Tuhan, yang wafat di dimakamkan untuk kita.
Mazmur 94 (95)
AntifonMarilah kita menyembah Kristus Tuhan, yang wafat di dimakamkan untuk kita.
Ibadat Bacaan
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur
Antifon 1Dalam damai, aku akan berbaring dan tidur.
Mazmur 4
Syukur
dari kesesakan Engkau melepaskan aku, kasihanilah aku dan dengarkanlah aku!
AntifonDalam damai, aku akan berbaring dan tidur.
Antifon 2Tubuhku akan beristirahat dalam harapan.
Mazmur 15 (16)
Allah adalah bagianku, warisanku
Bapa membangkitkan Yesus dari antara orang mati dan memutuskan ikatan kematian (Kisah Para Rasul 2:24).
AntifonTubuhku akan beristirahat dalam harapan.
Antifon 3Angkatlah tinggi gerbang-gerbang kuno. Raja kemuliaan masuk.
Mazmur 23 (24)
Masuknya Tuhan ke dalam bait-Nya
dunia dan semua penduduknya.
AntifonAngkatlah tinggi gerbang-gerbang kuno. Raja kemuliaan masuk.
Responsorium Lihat Matius 27:66, 60, 62
Responsorium
Te Deum
Doa Penutup
AKLAMASI (setidaknya dalam perayaan komunal)
Ibadat Pagi
Bila ini ibadat pertama hari ini, dahului dengan Invitatorium.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Mereka menangisi Tuhan seperti meratapi anak tunggal, sebab Tuhan dibunuh tak bersalah.
Mazmur 63 (64)
Antifon 1Mereka menangisi Tuhan seperti meratapi anak tunggal, sebab Tuhan dibunuh tak bersalah.
Antifon 2Dari alam maut lepaskanlah aku, ya Tuhan.
Yes 38,10-14.17-20
Antifon 2Dari alam maut lepaskanlah aku, ya Tuhan.
Antifon 3Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup selama-lamanya, dan Aku memegang kunci kerajaan maut.
Mazmur 150
Antifon 3Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup selama-lamanya, dan Aku memegang kunci kerajaan maut.
Bacaan Singkat: (Hos 6,1-3a)
AntifonKristus taat untuk kita sampai wafat, sampai wafat di salib. Dari sebab itulah Alah mengagungkan Yesus. Nama yang paling luhur dianugerahkan kepadaNya.
Antifon KidungPenyelamat dunia, selamatkanlah kami. Engkau telah menebus kami dengan salib dan darahMu. Tolonglah kami, ya Allah kami.
Kidung Zakaria Luk 1,68-79
Antifon KidungPenyelamat dunia, selamatkanlah kami. Engkau telah menebus kami dengan salib dan darahMu. Tolonglah kami, ya Allah kami.
Doa Permohonan:
Bapa Kami
Doa Penutup
Ibadat Sebelum Tengah Hari
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Mazmur 119 (120)
Antifon 1Aku berseru kepada Tuhan, dan Ia mendengarkan daku.
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Mazmur 120 (121)
Antifon 2Semoga Tuhan menjaga keluar masukmu.
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Mazmur 121 (122)
Antifon 3Betapa gembira hatiku, ketika dikatakan kepadaku.
Bacaan singkat (1 Io 1, 8-9)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Tengah Hari
Didaraskan pada Ibadat Siang I, II, maupun III.
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Antifonifon dan Mazmur diambil dari Sabtu II, hlm. 598
Madah
Antifon 1Tuhan bersabda: Langit dan bumi akan lenyap, tetapi sabdaKu takkan lenyap.
Mazmur 118 (119), 81-88
Antifon 1Tuhan bersabda: Langit dan bumi akan lenyap, tetapi sabdaKu takkan lenyap.
Antifon 2Tuhan, Engkaulah harapanku, jadilah pelindungku dan bentengku terhadap musuh.
Mazmur 60 (61)
Antifon 2Tuhan, Engkaulah harapanku, jadilah pelindungku dan bentengku terhadap musuh.
Antifon 3Jagalah hidupku terhadap musuh, ya Tuhan.
Mazmur 63 (64)
Antifon 3Jagalah hidupku terhadap musuh, ya Tuhan.
Bacaan Singkat: (1 Yoh 2,1b-2)
Doa Penutup
Ibadat Sesudah Tengah Hari
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Pendarasan Mazmur (Mazmur Pelengkap)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Mazmur 125 (126)
Antifon 1Sungguh agung karya Tuhan bagi kita, sebab itu kita bersukacita.
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Mazmur 126 (127)
Antifon 2Semoga Tuhan membangun rumah bagi kita dan menjaga kota.
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Mazmur 127 (128)
Antifon 3Berbahagialah setiap orang yang takwa kepada Tuhan.
Bacaan singkat (1 Io 2, 8b-10)
Ayat Singkat
Doa Penutup
Ibadat Sore
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Madah
Antifon 1Hai maut, engkau akan kubunuh. Hai pratala, engkau akan kuhancurkan.
Antifon 1Hai maut, engkau akan kubunuh. Hai pratala, engkau akan kuhancurkan.
Antifon 2Seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam lamanya, demikian juga Putera manusia akan tinggal di dalam rahim bumi.
Mazmur 142 (143),1-11
Antifon 2Seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam lamanya, demikian juga Putera manusia akan tinggal di dalam rahim bumi.
Antifon 3Rombaklah bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali. Yang dimaksudkan Tuhan ialah tubuhNya sendiri.
Flp 2,6-11
Antifon 3Rombaklah bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali. Yang dimaksudkan Tuhan ialah tubuhNya sendiri.
Bacaan Singkat: (1Ptr 1,18-21)
AntifonKristus taat untuk kita sampai wafat, sampai wafat di salib. Dari sebab itulah Allah mengagungkan Yesus. Nama yang paling luhur dianugerahkan kepadaNya.
Antifon KidungMaria: Sekarang Putera manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan dalam Dia. Allah akan segera memuliakan Dia.
Doa Penutup
Ibadat Penutup
Pembukaan
Dalam Masa Prapaskah, Alleluya ditiadakan.
Pekan I Mazmur
Doa Tobat
Madah
Antifon 1Kasihanilah aku, ya Tuhan, dan dengarkanlah doaku.
Mazmur 4
Antifon 1Kasihanilah aku, ya Tuhan, dan dengarkanlah doaku.
Antifon 2Pujilah Tuhan di waktu malam.
Mazmur 133 (134)
Antifon 2Pujilah Tuhan di waktu malam.
Bacaan singkat Ul 6,4-7
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Kidung Simeon
Antifon KidungBerkatilah kami, ya Tuhan, bila kami berjaga, lindungilah kami, bila kami tidur. Semoga kami berjaga bersama Kristus dan beristirahat dalam damai.
Doa Penutup
Penutup
Salam kepada Bunda Maria
Beato Damian de Veuster
Pater Damian adalah seorang misionaris Belgia di pulau Molokai, Hawai. Ia dihormati sebagai "rasul para penderita kusta". Ia lahir pada tanggal 3 Januari 1840 di Tremeloo, Belgia dan diberinama Yosef de Veuster. Sebagai anak seorang pedagang kaya raya, Yosef dididik untuk menjadi pedagang seperti ayahnya. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Wechter dan pendidikan praktis di perkebunan keluarga di Ninde, ia dikirim ke sebuah Kolose di Braine-le –Comte, Belgia, untuk memahirkan ketrampilannya di bidang perdagangan.
Meski demikian, selama berada disana pada tahun 1858, ia memutuskan untuk menjadi imam. Orang tuanya mengabulkan permohonannya untuk memasuki Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus dan Maria, kongregasi saudara kandungnya August. Pada bulan Januari 1859, Yosef masuk novisiat dari serikat itu di Louvain, Belgia. Ia mengucapkan kaulnya pada tanggal 7 Oktober 1860 di rumah induk biara di Paris dan menerima nama biara: Damian. Semula ia hanya akan diterima sebagai bruder saja. Tetapi atas dorongan kakaknya August, yang sudah menjadi imam dalam serikat itu, Damian terus belajar bahasa latin dan yunani serta tekun belajar ilmu-ilmu lainnya. Ketekunannya meyakinkan atasan, sehingga ia diijinkan belajar filsafat di Paris dan kemudian kembali ke Louvain untuk belajar teologi.
Sementara Damian belajar, kakaknya yang segera berangkat ke kepulauan Hawai terserang penyakit tipus. Lalu Damian meminta untuk menggantikannya walaupun ia belum di tabhiskan menjadi imam. Pemimpin tertinggi serikat itu mengabulkan permohonannya dan pada tanggal 29 Oktober 1863, ia berangkat ke Hawai. Ia tiba disana pada bulan Maret 1864 dan pada tanggal 21 Mei 1864 ia ditabhiskan menjadi imam di gereja Katedral Bunda Perdamaian di Honolulu, Hawai. Sebagai imam baru, Damian ditugaskan untuk melayani umat di stasi Puna, Kohala dan Hamakua selama beberapa tahun. Selama bertugas disana, perhatiannya lebih diarahkan kepada kondisi para penderita kusta yang ditempatkan di perkampungan Kalaupapa di pulau Molokai. Di daerah koloni itu tidak ada seorang dokter dan imam yang tinggal menetap untuk melayani para penderita kusta itu. Karena itu, pater Damian mengajukan permohonan kepada Uskup untuk menjadi misionaris untuk para penderita Kusta di Molokai itu. Untuk itu, ia mempersiapkan diri secukupnya dalam hal ketrampilan merawat orang sakit, mulai dari membalut luka sampai memotong anggota badan yang membusuk.
Pater Damian tiba di perkampungan kusta itu pada tanggal 10 Mei 1873. Disana ia giat mewartakan Injil dan mengajar agama, menghibur dan merawat orang-orang kusta bahkan mengubur mereka. Ia merintis pembangunan jalan raya, pipa air, rumah yatim piatu dan gereja-gereja. Ia berkarya disana dengan bantuan dua orang awam, juga satu kelompok suster-suster Fransiskan dari Syracuse, New York. Meski menyala-nyala semangat pengabdiannya, namun penyakit kusta itu mulai perlahan-lahan menjangkitinya pada tahun 1888, hingga merenggut nyawanya sendiri pada tanggal 15 April 1889. Kurang lebih satu abad kemudian, yaitu pada tahun 1936, jenazah Pater Damian dipindahkan dari kuburnya di Molokai ke tanah airnya Belgia dan disemayankan di pekuburan nasional St. Yosef di Louvain. Untuk menghormatinya maka didirikanlah sebuah monumen di pulau Molokai, dan sebuah institut untuk mempelajari penyakit kusta.
Beato Pedro Gonzalez
Pedro lahir di desa Astorga, Spanyol pada tahun 1190. Sejak masa studinya, Pedro ternyata cerdas dan pandai. Kehidupan rohaninya tidak menunjukkan suatu keistimewaan. Terpengaruh oleh kehidupan pamannya sebagai uskup, Pedro tertarik juga untuk menjalani kehidupan bakti kepada Tuhan.
Tak lama kemudian ia ditabhiskan menjadi imam. Oleh uskupnya, ia diangkat menjadi koordinator imam-imam diosesan. Pelantikannya dirayakan secara meriah dan besar-besaran. Tetapi Tuhan menunjukkan campur tangan-Nya pada hari itu. Arakan besar dan meriah menuju Katedral mulai bergerak. Pedro dengan gagah menunggang seekor kuda diiringi oleh imam-imam dan pembesar-pembesar negara dan umat. Tiba-tiba kuda yang ditungganginya berontak dan Pedro yang gagah itu jatuh. Sorak-sorai yang gemuruh itu berubah menjadi gelak tawa dan olok-olokan, Pedro menyadari hal ini merupakan tanda peringatan bahwa betapa tidak berartinya kemuliaan duniawi.
Setelah peristiwa ini, Pedro masuk Ordo Santo Dominikus. Mula-mula ia ditugaskan sebagai pastor tentara. Dalam tugas ini, Pedro menunjukkan contoh hidup yang sangat mnyenangkan bagi pasukannya dan semua orang di istana. Pada waktu kota Kordova direbut oleh raja Spanyol dari tangan suku Moor, Pedro berusaha menyelamatkan para tawanan dan wanita-wanita dari tindakan sewenang-wenang para tentara.
Setelah berhenti dari dinas ketentaraan, Pedro menjadi pastor untuk para petani dan nelayan. Ia mencurahkan sisa-sisa hidupnya untuk menemani para petani dan pelaut. Ia mengajari mereka bagaimana menghayati iman sebagai sebagai seorang petani dan pelaut. Soal-soal agama yang sulit, diterangkannya dengan sederhana sehingga dapat dimengerti oleh para petani dan pelaut yang sederhana itu. Cara hidupnya yang saleh, kerendahan hatinya serta pergaulannya yang baik dengan semua orang, membuat dia sangat disegani dan dihormati oleh semua petani dan pelaut itu. Ia meninggal pada tahun 1246.
Sapukan kiri / kanan untuk berganti hari