Tangan yang Terulur
Orang kusta pada zaman Yesus hidup dari jarak. Ia wajib berdiri jauh-jauh dan berteriak najis supaya orang tidak mendekat. Bertahun-tahun tanpa jabat tangan, tanpa rangkulan, tanpa sentuhan seorang pun. Barangkali itulah yang paling perih: bukan lukanya, melainkan tidak pernah disentuh. Ia masih hidup, tetapi seperti sudah dikuburkan dari pergaulan.
Maka perhatikan apa yang dilakukan Yesus ketika orang itu tersungkur memohon. Ia bisa saja menyembuhkan dengan sepatah kata dari jauh. Ia sanggup. Tetapi Injil mencatat: "Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu." Disembuhkan itu satu hal. Dijamah, sesudah bertahun-tahun dijauhi, itu keajaiban yang lain lagi.
Kemarin kita mendengar Yohanes menyebut iman sebagai kemenangan yang mengalahkan dunia. Hari ini ia menunjuk sumbernya: Yesus yang datang dengan air dan darah. Bukan Allah yang menjaga jarak, melainkan Allah yang masuk ke dunia sampai bisa disentuh dan tersentuh.
Di sekitar kita ada orang-orang yang sudah lama hidup dari jarak: yang dicap, yang dijauhi, yang tak pernah lagi ditanya kabarnya. Obat mereka kadang bukan uang. Cukup tangan yang mau terulur lebih dulu. Sapaan kecil pun bisa menjadi jamahan.
Tuhan Yesus, Engkau menjamah orang yang dijauhi semua orang. Jadikanlah tanganku sambungan tangan-Mu hari ini. Amin.