Makin Kecil, Makin Penuh
Menjelang fajar, bintang timur bersinar paling terang. Tetapi begitu matahari terbit, ia memudar, lalu hilang dari pandangan. Adakah bintang itu gagal? Tidak. Ia justru selesai dengan sempurna, sebab tugasnya memang mengabarkan bahwa pagi sudah dekat. Orang desa memakainya sebagai penanda waktu berangkat ke sawah.
Yohanes Pembaptis adalah bintang timur itu. Murid-muridnya datang dengan nada cemburu: semua orang kini pergi kepada Yesus. Jawaban Yohanes mencengangkan tenangnya: "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." Ia menyebut dirinya sahabat mempelai yang bersukacita mendengar suara mempelai. Sukacitaku, katanya, sekarang penuh.
Aneh, bukan? Makin kecil kok makin penuh. Dunia mengajarkan sebaliknya: sukacita datang kalau kita makin besar, makin dihitung, makin disebut. Yohanes menemukan rahasia yang lain. Sukacita paling jernih justru milik orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Sukacita semacam itu tidak bisa dicuri siapa pun.
Kemarin kita mendengar bahwa hidup kekal ada di dalam Anak. Hari ini surat Yohanes ditutup dengan peringatan: waspadalah terhadap segala berhala. Dan berhala yang paling awet biasanya bukan patung, melainkan nama kita sendiri.
Tuhan Yesus, jadilah makin besar dalam hidupku, dan buatlah aku rela makin kecil, supaya sukacitaku penuh. Amin.